Minggu, 21 Oktober 2012

Manusia dan Budaya


MANUSIA DAN KEBUDAYAAN


Hubungan antara manusia dan kebudayaan selayak uang logam dengan dua sisinya, artinya antara manusia dan kebudayaan tidak dapat dipisahkan. Tidak akan ada kebudayan tanpa ada manusia dan manusia tidak akan pernah mencapai puncak potensinya sebagai manusia tanpa berkebudayaan. Di dalam kebudayaan itulah manusia dibentuk, tetapi kebudayaan juga merupakan cermin dari perkembangan manusia pemilik kebudayaan tersebut. Proses perkembangan kabudayaan tidak akan pernah berhenti seiring dengan terus mengalirnya kebutuhan manusia sebagai pemilik kebudayaan tersebut yang juga tidak pernah berhenti. Manusia dengan kemampuan akal dan budinya, terus mengembangkan berbagai macam sistem tindakan demi memenuhi keperluan hidupnya, dan ini diperoleh dengan cara belajar (learned behavior). Dari proses belajar itu selanjutnya timbul apa yang dinamakan kebudayaan.
Kebudayaan menurut koentjaraningrat (1990 : 180) diartikan sebagai keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyuarakat yang dijadikan milik dari manusia dengan belajar. Definisi ini menunjukkan bahwa hampir semua tindakan manusia adalah kebudayaan, karena amat sedikit tindakan manusia dalam rangka kehidupan bermasyarakat yang tak perlu dibiasakan dengan belajar. Tindakan manusia yang tidak perlu dibiasakan dengan belajjar biasanya berupa tindakan naluriah, tindakan bawah sadar, bebrapa proses fisiologi, atau tindakan membabi buta. Bahkan berbagaoi tindakan manusia yang sifatnya naluriah yang terbawa dalam gennya bersama kelahiranya (seperti makan, minum, atau berjalan dengan kedua kakinya) pada akhirnya juga diubah menjadi tindakan kebudayaan. Secara naluriah menusia memang mempunyai tindakan yang berupa makan, minum atau berjalan.
Tetapi cara-cara sopan santun dalam makan, minum dan berjalan yang seringkali rumit, harus dipelajarinya terlebih dahulu. Manusia ketika makan tidak hanya sekedar mengambil makanan dengan tangannya dan memasukkannya ke dalam mulut. Dalam kegiatan makan tersebut manusia menggunakan berbagai alat makan yang cara penggunaannya harus dipelajari, misalnya bagaimana berbagai alat makan yang cara penggunaannya harus dipelajari, misalnya bagaimana cara menggunakan sendok dan garu, menggunakan pisau atau mangkuk sup. Dalam makan tersebut juga harus mengikuti sopan santun makan yang juga harus dipelajari, misalnya bagaimana makan dalam perjamuan resmi, bagaimana sopan santun makan dalam kalangan bangsawan, dan lain-lain.
Apakah pengertian Kebudayaan itu ?? Kebudayaan adalah hasil cipta, karsa dan rasa manusia oleh karenanya kebudayaan mengalami perubahan dan perkembangan sejalan dengan perkembangan manusia itu. Perkembangan tersebut dimaksudkan untuk kepentingan manusia itu sendiri, karena kebudayaan diciptakan oleh dan untuk manusia.
Dalam Sosiologi, manusia dan kebudayaan dinilai sebagai dwitunggal, maksudnya bahwa walaupun keduanya berbeda, tetapi keduanya merupakan suatu kesatuan. Manusia menciptakan kebudayaan, dan setelah kebudayaan itu tercipta, maka kebudayaan mengatur dan mendamping hidup manusia
Ada beberapa pendapat ahli yang mengemukakan mengenai komponen atau unsur kebudayaan, antara lain sebagai berikut:
  1. Melville J. Herskovits menyebutkan kebudayaan memiliki 4 unsur pokok, yaitu:
    • alat-alat teknologi
    • sistem ekonomi
    • keluarga
    • kekuasaan politik
  2. Bronislaw Malinowski mengatakan ada 4 unsur pokok yang meliputi:
    • sistem norma sosial yang memungkinkan kerja sama antara para anggota masyarakat untuk menyesuaikan diri dengan alam sekelilingnya
    • organisasi ekonomi
    • alat-alat dan lembaga-lembaga atau petugas-petugas untuk pendidikan (keluarga adalah lembaga pendidikan utama)
    • organisasi kekuatan (politik)

Menurut J.J. Hoenigman, wujud kebudayaan dibedakan menjadi tiga, yaitu:
a. Gagasan
Wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide-ide, gagasan,nilai - nilai, norma - norma, peraturan, dan sebagainya yang sifatnya abstraktidak dapat diraba atau disentuh. Wujud kebudayaan ini terletak dalam kepala-kepala atau di alam pemikiran warga masyarakat. Jika masyarakat tersebut menyatakan gagasan mereka itu dalam bentuk tulisan, maka lokasi dari kebudayaan ideal itu berada dalam karangan dan buku-buku hasil karya para penulis warga masyarakat tersebut.

b. Aktivitas
Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu. Wujud ini sering pula disebut dengan sistem sosial. Sistem sosial ini terdiri dari aktivitas-aktivitas manusia yang saling berinteraksi, mengadakan kontak, serta bergaul dengan manusia lainnya menurut pola-pola tertentu yang berdasarkan adat tata kelakuan. Sifatnya konkret, terjadi dalam kehidupan sehari-hari, dan dapat diamati dan didokumentasikan.

c. Artefak
Artefak adalah wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan, dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat diraba, dilihat, dan didokumentasikan. Sifatnya paling konkret diantara ketiga wujud kebudayaan.

Dalam kenyataan kehidupan bermasyarakat, antara wujud kebudayaan yang satu tidak bisa dipisahkan dari wujud kebudayaan yang lain. Sebagai contoh: wujud kebudayaan ideal mengatur dan memberi arah kepada tindakan (aktivitas) dan karya (artefak) manusia.
Berdasarkan wujudnya tersebut, kebudayaan dapat digolongkan atas dua komponen utama:
  • Kebudayaan material
    Kebudayaan material mengacu pada semua ciptaan masyarakat yang nyata, konkret. Termasuk dalam kebudayaan material ini adalah temuan-temuan yang dihasilkan dari suatu penggalian arkeologi: mangkuk tanah liat, perhisalan, senjata, dan seterusnya. Kebudayaan material juga mencakup barang-barang, seperti televisi, pesawat terbang, stadion olahraga, pakaian, gedung pencakar langit, dan mesin cuci.
  • Kebudayaan nonmaterial
    Kebudayaan nonmaterial adalah ciptaan-ciptaan abstrak yang diwariskan dari generasi ke generasi, misalnya berupa dongeng, cerita rakyat, dan lagu atau tarian tradisional.
Semua kebudayaan mempunyai dinamika dan gerak. Gerak kebudayaan sebenarnya adalah gerak manusia yang hidup dalam masyarakat yang menjadi wadah kebudayaan tadi. Gerak manusia terjadi karena ia mengadakan hubungan - hubungan dengan manusia lainya, atau dengan kata lain terjadi hubungan antar kelompok manusia di dalam masyarakat

Terjadinya gerak/perubahan ini disebabkan oleh beberapa hal:
  1. Perubahan lingkungan alam
  2. Perubahan yang disebabkan adanya kontak dengan kelompok lain
  3. Perubahan karena adanya penemuan (discovery)
  4. Perubahan yang terjadi karena suatu masyarakat atau bangsa mengadopsi beberapa elemen kebudayaan material yang telah dikembangkan oleh bangsa lain ditempat lain.
  5. Perubahan yang terjadi karena suatu bangsa memodifikasi cara hidupnya dengan mengadopsisuatu pengetahuan atau kepercayaan baru atau karena perubahan dalam pandangan hidup dan konsepsinya tentang realitas.
Seiring dengan perkembangannya, kebudayaan juga mengalami beberapa problematika atau masalah masalah yang cukup jelas yaitu :
  1. Hambatan budaya yang ada kaitannya dengan pandangan hidup dan sistem kepercayaan.
  2. Hambatan budaya yang berkaitan dengan perbedaan sudut pandang atau persepsi.
  3. hambatan budaya yang berkaitan dengan faktor psikologi atau kejiwaan.
  4. Masyarakat terpencil atau terasing dan kurang komunikasi dengan masyarakat lainnya.
  5. Sikap Tradisionalisme yang berprasangaka buruk terhadap hal-hal yang baru
  6. Mengagung-agungkan kebudayaan suku bangsanya sendiri dan melecehkan budaya suku bangsa lainnya atau lebih dikenal dengan paham Etnosentrisme.
  7. Perkembangan Iptek sebagai hasil dari kebudayaan.
Kebudayaan mempunyai kegunaan yang sangat besar bagi manusia. Hasil karya manusia menimbulkan teknologi yang mempunyai kegunaan utama dalam melindungi manusia terhadap lingkungan alamnya. Sehingga kebudayaan memiliki peran sebagai berikut:
  1. Suatu hubungan pedoman antarmanusia atau kelompoknya
  2. Wadah untuk menyalurkan perasaan-perasaan dan kemampuan-kemampuan lain.
  3. Sebagai pembimbing kehidupan dan penghidupan manusia
  4. Pembeda manusia dan binatang
  5. Petunjuk-petunjuk tentang bagaimana manusia harus bertindak dan berprilaku didalam pergaulan.
  6. Pengatur agar manusia dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak, berbuat dan menentukan sikapnya jika berhubungan dengan orang lain.
  7. Sebagai modal dasar pembangunan.

Proses belajar kebudayaan yang dilalui manusia dapat dikelompokkan dalam tiga kelompok proses belajar yaitu :
A.     PROSES INTERNALISASI
Proses belajar ini merupakan suatu proses yang amat panjang, yang dimulai sejak seorang manusia dilahirkan sampai ia hapmpir meninggal, di mana ia belajar menanamkan dalam kepribadiannya segala perasaan, nafsu serta emosi yang diperlukannya sepanjang hidupnya. Intinya proses internalisasi merupakan proses di mana individu belajar menanamkan dalam kepribadiannya segala perasaan, hasrat, serta emosi yang diperlukan sepanjang hidupnya (koentjaraningrat, 1996 : 228). Yang terjadi pada proses internalisasi ini adalah bahwa individu mengidentifikasikan dirinya dengan kelompok serata norma-norma kelompok tersebut. Proses internalisasi ini memegang peranan penting dalam perkembangan individu sebagai makhluk sosial.



B.      PROSES SOSIALISASI
Dalam proses sosialisasi, seorang individu dari masa kanak-kanak hingga masa tua belajar tentang pola-pola tindakan dalam interaksi dengan beraneka ragam individu di sekelilingnya yang menduduki beraneka macam peranan sosial yang mungkin ada dalam kehidupan sehari-hari. Proses sosialisasi ini, menuru Charlotte Buehler (Suseno, 1980 : 12) adalah proses yang membantu individu, melalui belajar dan menyesuaikan diri, bagaimana cara hidup dan bagaimana cara berfikir kelompoknya, agar dapat berperan dan berfungsi dalam kelompoknya. Dalam proses pendewasaan manusia berdasarkan pengalamannya sendiri selalu akan terbentuk suatu sistem perilaku (behaviour system) yang juga ikut ditentukan oleh watak pribadinya, yaitu bagaimana ia akan memberi reaksi terhadap suatu pengalaman. Akhirnya sistem prilaku inilah yang akan menentukan dan membentuk sikapnya terhadap sesuatu.

C.     PROSES ENKULTURASI
Enkulturasi sudah dimulai sejak kecil dalam alam pikiran warga suatu masyarakat. Enkulturasi dimulai ketika individu masih dalam lingkungan kelurga, kemudian dalam lingkungan teman-teman bermainnya, di mana seringkali ia belajar meniru berbagai macam tindakan. Sudah tentu ada juga norma yang diajarkannya kepadanya dengan sengaja tidak hanya di lingkungan keluarga, tetapi juga secara formal di sekolah (koentjaraningrat, 1986 : 233). Dalam enkulturasi, diserap hal-hal khusus dari kebudayaan, seperti nilai-nilai kontrol sosial, prasangka, sikap, gaya, bahasa, yang kemudian menjadi pegangan dalam bertingkah laku, misalnya kebiasaan membelikan oleh –oleh kepada kerabat dekat atau pada para tetangga yang tinggal di sekitar rumahnya bila bepergian ke suatu tempat yang jauh yang sudah merupakan aturan yang tidak tertulis yang didapatkan dari kecil.
Dalam rangka proses enkulturasi itu maka individu telah belajar cara – cara untuk bergaul dengan tiap individu dalam lingkungan, kerabat dan tetangga tadi, dan ia telah mengembangkan tindakan yang berbeda dalam menghadapi mereka masing-masing.
Selanjutnya hubungan antara manusia dan kebudayaan dapat di lihat juga dari kedudukan manusia terhadap kebudayaan tersebut. Sehubungan dengan kedudukan manusia terhadap kebudayaannya maka terdapat empat kedudukan yaitu sebagai beriktu (Krech, 1986).
Pertama, Manusia bertindak sebagai penganut kebudayaan (creature of culture). Sebagai penganut kebudayaan maka sejak kecil manusia sudah dimotivasi untuk berkelakuan sebagaimana yang dikehendaki kebudayaannya di semua situasi.
Kedua, individu juga bertindak sebagai pembawa kebudayannya. Sebagai pembawa kebudayaan, individu memainkan peranan yang lebih aktif dan positif yaitu sebagai pentransmisi kebudayaan kepada generasi berikutnya.
Ketiga, Individu juga bertindak sebagai manipulator, di mana dengan menggunakan sikap, nilai, dan pola-pola perilaku yang umum berusaha mencapai kepentingannya.
Keempat, individu bertindak sebagai pencipta kebudayaan (creator of culture), sebagai pencipta kebudayaan maka kebudayaan merupakan motor penggerak bagi perubahan kebudayaan.
Manusia dan Kebudayaan merupakan suatu bagian dari kehidupan yang saling berinteraksi, dalam kehidupannya, manusia menciptakan beraneka ragam kebudayaan yang tentunya berbeda - beda macamnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar