MALUKU
Kepulauan Maluku merupakan kepulauan di Indonesia, dan bagian dari wilayah
yang lebih besar Maritim Asia Tenggara. Tektonik mereka berada di Lempeng
Halmahera dalam Zona Collision Laut Maluku. Secara geografis mereka berada
timur dari Sulawesi, sebelah barat New Guinea, dan utara Timor. Pulau-pulau
juga historis dikenal sebagai Kepulauan Rempah oleh Cina dan Eropa,
tetapi istilah ini juga telah diterapkan ke pulau-pulau lainnya. Di Ambon desa
dinamakan dengan negeri yang dikepalai oleh seorang Raja. Di dalam
sebuah desa atau negeri terdapat beberapa perkampungan yang di pimpin
oleh Aman. Di dalam sebuah perkampungan terdiri dari bagian kampung
yang dipimpin oleh seorang Soa. Di dalam Soa terdapat beberapa rumah
yang dipimpin oleh mata rumah. Pada zaman modern ini bentuk desa
demikian telah mulai hilang. Karena sewaktu mereka pindah dari perdalaman ke
dareah pesisir pantai kesatuan-kesatuan yang mereka adakan telah berpencar dan
tidak menemukan satu sama lain.Rumah-rumah yang biasa mereka tempati ialah
rumah pangung. Rumah-rumah penduduk asli sangat berbeda dengan penduduk yang
datang, masyarakat islam dan masyarakat nasrani yang tidak bertiang sejajar
dengan tanah. Rumah kepala Soa biasanya selalu dibangun dengan megah dan indah
ala perumahan Eropa.
BUDAYA DAN TRADISI
Itu sejak tahun lalu Maluku akrab dengan seni ukir. Hal ini dapat
dibuktikan dengan jumlah kayu yang diukir atau batu berukir untuk menyembah
leluhur. Umumnya, pola ukiran dalam bentuk manusia dan penempatan dapat
perbedaan sesuai dengan tujuan. Ukiran dapat ditempatkan di haluan kapal, di
tangga depan rumah di gerbang desa atau di tempat khusus lainnya.
Gerabah Kapal Art
Karya seni ini biasanya dilakukan
secara tradisional di tenggara Maluku, tempat di mana dapat menemukan banyak
tanah liat, bahan utama untuk seni ini. Musim terbaik untuk membakar kapal
gerabah adalah selama musim panas, yang biasanya pada bulan Agustus sampai
Oktober. Membentuk gerabah yang menggunakan lengan atau peralatan lainnya
seperti kayu misalnya. Jika perlu dapat diwarnai atau diukir di permukaan, dan
yang juga dilakukan dalam metode yang sangat sederhana, yaitu selama tanah liat
masih mulus, sebelum dibakar. Pola dekorasi yang bervariasi. The gerabah dari
arah tenggara Maluku untuk instan, ia cenderung untuk menggunakan garis lurus /
garis-garis. Sementara dari Aru itu diwarnai dengan bentuk geometri dan
dibentuk oleh garis lurus setelah luka bakar.
Plait Art
Beberapa tipe rumah tangga di
tenggara Maluku dilakukan melalui anyaman. Keranjang, kotak dan tas adalah
barang yang biasa dibuat. Mereka digunakan untuk menyimpan dan membawa
barang-barang. Penangkap ikan juga anyaman. Bahan anyaman tidak selalu
berkaitan dengan rumah tangga, namun juga dapat digunakan untuk upacara agama. Bahan
dasar untuk anyaman biasanya bambu, rotan atau berangkat dari pohon palem.
Karya seni anyaman terdiri dari berbagai teknik, dari yang sangat sederhana
sampai yang kompleks. Perempuan umumnya menggunakan pohon palem, sementara
laki-laki yang menggunakan bambu atau rotan. Pola, yang biasanya diterapkan,
adalah orang menari, bintang, spiral / spring, ikan, bulan, dan lencana bahkan
keluarga.
Keluarga rambut tenun
Keluarga rambut tenun
Keindahan Maluku juga bersinar dari kilauan perhiasan emas. Tanimbar, Babar
dan Kisar sekitarnya memiliki tradisi dalam kerajinan emas. Emas itu sendiri
tidak ada ditambang. Para perajin emas mendapatkan itu dari pedagang yang
berasal dari Madagaskar, Bugis, dan dariBelanda dan Inggris pada waktu itu. Perhiasan emas biasanya dibuat dalam
bentuk gelang, anting-anting, mahkota, kepala aksesoris, kalung, aksesoris
pakaian serta piring. Perajin roughs mereka dengan berbagai pola. Pola bisa
dalam bentuk bintang, hewan, manusia, atau seni. Memang merupakan tujuan
simbolis.Pola ini juga dapat dirancang makhluk mati. Perhiasan emas merupakan status
yang khas dalam masyarakat seperti apa yang mereka dimaksudkan untuk menjadi.
Saat ini, bahwa perhiasan emas tetap disimpan oleh warisan. Mereka disimpan dan
dibahas dalam keranjang tertentu. Pada saat upacara agama tertentu seperti
acara. Mereka diungkapkan pada upacara ritual. Selain itu, mereka dapat
dilakukan untuk pihak yang berkepentingan dengan jumlah tertentu kompensasi
uang. Mereka diperbolehkan untuk mengambil gambar. Namun, orang yang diizinkan
untuk memakainya,hanya mereka yang mewarisi perhiasan tersebut.
Tradisi
Maluku kaya dengan tradisi budaya. Untungnya, tradisi yang tetap
dipertahankan hingga saat ini dan masih bisa dinikmati. Gila bambu misalnya,
beberapa orang memegang bambu diiringi dengan musik lokal, berayun, yang tampaknya
untuk hidup dan bergerak sendiri. Instrumen musik juga khas dari Maluku,
seperti meniup shell, tifa dan totobuang.
Ada juga tradisi yang terjadi setelah 7 hari Iedul Fitri di Mamala dan Morela. Anak muda dari desa, memegang daun palem rusuk, memukul satu sama lain. Sementara bekas luka yang disebabkan untuk itu, disembuhkan dengan menggosokkan minyak tertentu yang disiapkan. Kora-kora ras hingga saat ini tetap menjadi tradisi yang tidak pernah ditinggalkan. Hal ini dimulai pada bulan April di beberapa desa, dibutuhkan kurang lebih 8 km. Perlombaan kora-kora juga dimaksudkan untuk memperingati ulang tahun Ambon. Ada banyak lagi tradisi, sampai kebiasaan di bulan September di Haruku pulau. Dimana orang mencari dan mengumpulkan telur Maleo burung yang dimaksudkan untuk melestarikan spesies-spesies. Dalam tarian tradisional, tarian tradisional Maluku memiliki beberapa, salah satunya dikenal sebagai tari Sawat. Dan tarian yang populer dan dikenal di seluruh bangsa dan bahkan presiden pertama Indonesia, Bung Karno, menyukainya banyak. Itu disebut tari Lenso.
Ada juga tradisi yang terjadi setelah 7 hari Iedul Fitri di Mamala dan Morela. Anak muda dari desa, memegang daun palem rusuk, memukul satu sama lain. Sementara bekas luka yang disebabkan untuk itu, disembuhkan dengan menggosokkan minyak tertentu yang disiapkan. Kora-kora ras hingga saat ini tetap menjadi tradisi yang tidak pernah ditinggalkan. Hal ini dimulai pada bulan April di beberapa desa, dibutuhkan kurang lebih 8 km. Perlombaan kora-kora juga dimaksudkan untuk memperingati ulang tahun Ambon. Ada banyak lagi tradisi, sampai kebiasaan di bulan September di Haruku pulau. Dimana orang mencari dan mengumpulkan telur Maleo burung yang dimaksudkan untuk melestarikan spesies-spesies. Dalam tarian tradisional, tarian tradisional Maluku memiliki beberapa, salah satunya dikenal sebagai tari Sawat. Dan tarian yang populer dan dikenal di seluruh bangsa dan bahkan presiden pertama Indonesia, Bung Karno, menyukainya banyak. Itu disebut tari Lenso.
KEBUDAYAAN KOTA
AMBON
Kota
Ambon adalah kota yang memiliki kebudayaaan yang sangat unik dan eksotis .
Meskipun pada tahun 1999 terjadi Kerusuhan besar - besaran menyangkut permasalahan
SARA , tapi banyak hal yang dapat kita pelajari kebudayaannya serta sejarahnya
. Bahasa orang Ambon sangat mirip dengan bahasa Jerman , Belanda dan Inggris .
Kata yang sering saya ucapkan setelah menerima sebuah hadiah atau oleh - oleh
adalah " Danke", kata ini mirip sekali dengan bahasa Jerman . Kata -
kata bahasa Maluku sangat Mudah diingat asal kita ingat suku katanya saja
,“Kita” di ambon menjadi “katong” asal kata dari “kita orang”, “mereka” menjadi
“dong” asal kata dari “dia orang”. Untuk kata kepemilikan menggunakan kata
“punya” yang disingkat menjadi “pung”, contohnya apabila kita ingin menyebutkan
“rumah saya” maka menjadi “beta pung rumah”. Ada beberapa hal yang perlu
diingat antara lain, mereka cenderung menyingkat kata, bunyi vokal “e” akan
selalu dibaca “e’ “, dan untuk kata yang berakhiran dengan “n” selalu menjadi
“ng”. Dengan demikian dapat dipahami kenapa kata “punya” menjadi “pung” dan
“pergi” menjadi “pi”, “jangan” menjadi “jang”, “dengan” menjadi “deng”, “teman”
menjadi “tamang”, dan “makan” menjadi “makang”. Ahaa… kami pun mulai asik
bercakap-cakap dalam bahasa Maluku “katong pi jua?” atau “ayo katong pi makang,
beta su lapar” “epenka” “jang mara”.
MUSIK AMBON
Masyarakat Kota Ambon setiap hari suka memutar musik
dengan keras - keras . Jangan mengharapkan di sana ada lagu - Lagu barat
seperti : Justin Bieber , Lady gaga , Ketty Perry dll , yang ada di sana hanya
ada Lagu - lagu Ambon yang diciptakan Orang - orang Ambon itu sendiri . Saya
saja sampai hafal lagu - lagu Ambon seperti :
1. Hura - Hura Cincin
2. Enggo Lari
3. Hitam - Hitam kuli Kanari
Selain di rumah penduduk , lagu - lagu AMbon juga
dapat di dengar di rumah - rumah makan , angkutan umum , Kapal penyebrangan
umum dan juga di tempat - tempat lainnya .
BUDAYA DAN SAGU
Keseluruhan budaya Maluku terangkum di Museum Siwalima
sangat cocok untuk dapat memahami kilas kebudayaan di sana. Hal yang menarik
dari kehidupan masyarakat Maluku adalah tingginya tingkat ketergantungan
terhadap pohon sagu, perannya sama seperti Kelapa di Pulau Jawa di mana dari
ujung akar sampai ujung daun dapat dimanfaatkan. Namun kontribusi pohon sagu
lebih merasuki kebutuhan primer masyarakat Maluku yaitu kebutuhan pangan dan
papan. Buah sagu diolah menjadi papeda, makanan pokok masyarakat Maluku, dan
bisa diolah menjadi beraneka ragam penganan lain berupa camilan yang enak dan
khas. Batang pohonnya akan diolah menjadi furnitur dan kayu untuk rumah, dan
daun-daun yang menyerupai sirip daun kelapa akan dianyam rapat lalu dijemur
untuk kemudian menjadi atap rumah. Atap yang terbuat dari daun sagu ini sangat
nyaman, karena secara alami akan mengatur suhu udara di bawahnya untuk tetap
nyaman bagi manusia.
Apabila pohon sagu telah mati, sesuai dengan musimnya
ulat-ulat sagu akan bermunculan, dan ulat-ulat ini pun ikut disantap menjadi
makanan berprotein tinggi. Untung sekali saat kami ke sana tidak sedang musim
ulat sagu sehingga tidak ada kesempatan untuk dipaksa memakannya.
Itulah kilas budaya Ambon yang sempat tertangkap oleh
panca indra saya selama tujuh hari di kota tersebut. Dan tentu saja kisah Ambon
tidak terhenti di sini, simaklah dinamika sejarah dan pesona alamnya pada
cerita selanjutnya.
A. PERALATAN DAN PERLENGKAPAN HIDUP
Peralatan dan perlengkapan orang orang Ambon dibagi menjadi 2 bagian, yaitu
Peralatan pada zaman dulu dan peralatan zaman sekarang
B. SISTEM MATA PENCAHARIAN
Orang-orang Ambon pada umumnya mayoritas mereka bertani di lading. Dalam hal
ini, sekelompok orang membuka sebidang tanah di hutan, dengan cara menebang
pohon – pohon di hutan dan dengan membakar batang – batangnya serta dahan yang
telah kering. Ladang yang dibuka dengan cara ini hanya diolah dengan tongkat,
kemudian ditanami tanpa irigasi kemudian ditanami kacang-kacangan dan ubi
ubian.
Makanan
mayoritas orang Ambon adalah sagu, tapi zaman sekarang beras sudah biasa mereka
makan, tetapi belum menggantikan sagu seluruhnya. Pohon sagu tidak perlu
ditanam dan dipelihara karena pohon sagu telah berkembang dan hidup di pulau
pulau Maluku serta di rawa rawa juga sangat banyak.
Di
daerah lereng lereng gunung orang juga menanam kentang walaupun hasilnya tidak
banyak, kebiasaan menanam kentang itu berasal dari orang orang Belanda, tanaman
pengaruh orang Belanda adalah kopi yang banyak tumbuh di Lisaba, Amahai, dan
Manipa.
Banyak
penduduk menanam tembakau untuk dipakai sendiri, mereka menanam di pekarangan
rumah, dibawah cucuran atap sehingga kalau turun hujan, air hujan tersebut
langsung menyiram tanaman tembakau tersebut, daun tembakau lebat dan kuat.
Orang membuat tembakau dengan memotong motong halus daun tembakau tersebut
kemudian dijemur di terik mentari supaya kering.
Orang
Ambon juga menanam tebu, singkong, jagung, dan kacang kacangan. Sedangkan buah
buahan yang ditanam antara lain pisang, mangga, manggis, gandaria, durian,
cengkih juga ditanam oleh orang Ambon. Cengkih sangat mudah perawatannya tetapi
harganya cukup tinggi.
Hasil
bumi tersebut bila berlebih akan dijual kepada orang lain, dengan demikian
orang tersebut mendapat upah dari hasil penjualan, serta memperoleh uang untuk
membeli kebutuhan sehari hari, bayar pajak, membiayai sekolah anak anak mereka
serta membeli alat alat pertukangan.
Di
samping pertanian, orang Ambon juga memburu rusa, babi hutan, dan burung
kasuari. Mereka menggunakan lembing yang dilontarkan dengan jebakan dan dengan
cara memburu secara langsung menguunakan panah atau senjata api.
Penduduk
di daerah pantai mayoritas mereka adalah nelayan dan menangkap ikan. Perahu
mereka dibuat dengan satu batang kayu dan dilengkapi dengan cadik, perahu ini
dinamakan dengan perahu semah. Perahu yang baik adalah perahu yang terbuat dari
papan dan dibuat oleh orang Ternate, dinamakan pakatora. Perahu perahu besar
untuk berdagang dinamakan jungku atau orambi.
C. SISTEM KEPERCAYAAN ATAU RELIGI
Pada
umumnya penduduk Maluku Tengah beragama Nasrani dan minoritas beragama Islam,
walaupun mereka telah memeluk agama Islam dan Nasrani tapi mereka masih nampak
sisa sisa religi sebelum agama Islam dan Nasrani muncul. Mereka masih percaya
akan adanya roh roh yang harus dihormati dan diberi makan, minum dan tempat
tinggal agar mereka tidak mengganggu bagi orang yang masih hidup di dunia ini. Untuk
masuk baileu misalnya mereka harus melakukan upacara lebih dahulu untuk meminta
izin kepada roh nenek moyang yang ada di Baileu. Adapun orang yang ikut dalam
upacara tersebut adalah tuan negeri atau sesepuh. Orang yang masuk baileu harus
memakai pakaian hitam serta kalung warna merah yang dikalungkan ke bahu. Zaman
sekarang orang Ambon telah meninggalkan upacara memanggil roh nenek moyang,
kurban kurban yang dipersembahkan kepada roh nenek moyang serta pemujaan roh
nenek moyang.
Orang
Ambon mengenal upacara cuci negeri yang pada umumnya sama dengan upacara bersih
desa yang dilakukan orang di pulau Jawa. Semua penduduk desa harus membersihkan
sesuatu dengan cara yang baik dan benar. Bangunan bangunan yang harus
dibersihkan adalah Baileu, rumah rumah warga dan pekarangan, bila tidak
dilakukan dengan benar maka akan ada sangsinya yaitu mereka akan jatuh sakit.
Seluruh warga desa akan terkena wabah penyakit atau panennya gagal. Orang
Maluku Tengah pada umumnya mengenal upacara pembayaran kain berkat, yang
dilakukan oleh klen penganten laki laki, kepada kepala adat dari desa penganten
perempuan, pembayaran itu berupa kain putih serta minuman keras atau tuak,
kalau hal ini dilupakan keluarga muda ini akan menjadi sakit dan mati. Di desa
desa Ambon yang beragama Islam kita melihat adanya dua golongan penganut yang
disamakan dengan Islam di Jawa yaitu misalnya abangan atau santri. Di
negeri Kailolo mayoritas penduduknya adalah santri, bulan puasa di beritahukan
oleh imam atau disebut saniri negeri. Demikian pula dengan lebaran haji setelah
kepala negeri atau saniri negeri mengetahuinya, maka imam imam negeri tersebut
harus menyampaikan kepada umat Islam di sana
D. SISTEM
KEMASYARAKATAN
Dalam system kemasyarakatan
masyarakat Ambon mengambil system kekerabatan yang bersifat ke-Ayahan “Patrilineal”.
Di dalam kekerabatan yang memegang peranan penting ada dua yaitu
· “Mata
rantai”, mata rumah ini biasanya bertugas mengatur perkawinan warganya
secara “Exogami” dan dalam hal mengatur penggunaan tanah-tanah “dati”
tanah milik kerabat patrilineal.
· “Family”,
family merupakan kesatuan terkecil dalam mata rumah. Family ini berfungsi
sebagai pengatur pernikahan klenya.
Perkawinan dalam masyarakat Ambon
merupakan urusan mata rumah dan family. Di dalam masyarakat Ambon perkawinan di
kenal dengan beberapa macam, diantaranya :
a. Kawin
minta ialah perkawinan yang terjadi apabila seorang pemuda telah menemukan
seorang gadis yang akan dijadikan istri, maka pemuda in meminta pada mata rumah
dan family untuk melamarnya. Sebelum acara pelamaran para mata rumah dan family
mengadakan rapat adat satu klen dalam persiapan acara pelamaran.
b. Kawin
lari atau lari bini adalah system perkawinan yang paling lazim di
lakukan oleh masyarakat Ambon. Hal ini di karenakan oleh masyarakat Ambon lebih
suka jalan pendek, untuk menghindari prosedur perundingan dan upacara adat.
c. Kawin
masuk atau kawin menua yaitu perkawinan yang pengantin laki-lakinya
tinggal di rumah pengantin perempuannya. Perkawinan ini terjadi apabila :
· Kaum kerabat
si pengantin tidak dapat membayar maskawin secara adat.
· Penganten
perempuan merupakan anak tunggal dalam keluarganya.
· Karena ayah
dari pengaten laki-laki tidak setuju dengan perkawinan tersebut
SEJARAH DAN BUDAYA HUBUNGAN AMBON
Wilayah ini baik secara kultural dan ras terletak "di persimpangan
jalan" antara Indonesia dan Melanesia. Sifat budaya paling menonjol yang
diadopsi dari Melanesia adalah kakehan, masyarakat rahasia pria di
Seram, masyarakat hanya seperti di kepulauan Indonesia keseluruhan. Maluku atau
"Spice Islands" awalnya satu-satunya tempat di mana pala dan cengkeh
ditemukan. Sudah dikenal di Roma kuno dan mungkin lebih awal di Cina,
rempah-rempah didambakan menarik pedagang dan imigran dari Jawa dan pulau-pulau
Indonesia lainnya, serta India, Arab, dan Eropa. Melalui perkawinan, spektrum
yang luas dari jenis fisik muncul, sering bervariasi secara luas dari desa ke
desa, dan budaya Ambon menjadi amalgam pikiran-menyilaukan sebelumnya,
ciri-ciri budaya pribumi dengan konsep dan kepercayaan Hindu-Jawa, Arab,
Portugis, dan asal Belanda . Daerah Budaya Ambon dapat dibagi menjadi dua subkultur,
yaitu budaya ALIFURU dari suku pedalaman Seram, dan budaya Pasisir dari
Ambon-Lease dan membentang pesisir Seram Barat. ALIFURU adalah bercocok tanam
yang berlatih pengayauan sampai pengamanan oleh Belanda tak lama sebelum Perang
Dunia I. klan Kebanyakan Ambon di wilayah Pasisir melacak nenek moyang mereka
ke daerah pegunungan Seram, dan budaya ALIFURU membentuk dasar budaya Ambon.
Banyak budaya ALIFURU telah dihancurkan oleh misionaris Kristen bersemangat
dari daerah Pasisir yang tidak bisa merasakan bahwa banyak dari apa yang mereka
diserang sebagai "kafir" di Seram yang sakral untuk diri mereka
sendiri di Ambon-Lease. Hal ini mengakibatkan paradoks bahwa desa-desa Kristen
di Ambon-Lease, dikonversi sekitar 400 tahun sebelumnya, telah dilestarikan warisan
budaya mereka lebih baik daripada desa-desa pegunungan baru saja dikonversi di
Seram, yang kini menemukan dirinya dalam limbo budaya dan dalam keadaan depresi
ekonomi . Sementara di wilayah Pasisir Kristen Protestan dan Islam mendominasi
pandangan dunia dari pengikut masing-masing, kepercayaan tradisional dan
praktek (adat) terus mengatur hubungan sosial di kedua komunitas agama.
Ekspansi yang cepat dari Islam di wilayah ini pada abad kelima belas terkandung
dengan kedatangan Portugis (tahun 1511), yang dikonversi sebagian penduduk
"kafir" ke Katolik Roma selama abad mereka kekuasaan kolonial. Tahun
1605 Belanda menggantikan mereka, dan tetap di sana sampai 1950. Mereka
berpaling penduduk Kristen Protestan Calvinis dan menjadi melembagakan monopoli
rempah-rempah meskipun perlawanan sengit dari kedua Muslim dan Kristen. Pada
abad kesembilan belas, setelah penurunan perdagangan rempah-rempah, Ambon
Muslim memudar ke latar belakang sementara nasib orang-orang Kristen menjadi
semakin erat dengan Belanda. Seperti terpercaya dan tentara yang setia, mereka
menjadi andalan tentara kolonial Belanda (KNIL). Milik yang terbaik-kelompok
berpendidikan di Hindia Belanda, banyak yang bekerja di pemerintahan kolonial
dan perusahaan swasta di luar tanah air mereka. Pola emigrasi terus dalam
periode pascakemerdekaan. Muslim, sebelumnya dikeluarkan untuk sebagian besar
dari pendidikan, sekarang cepat menyusul dengan Kristen dan bersaing dengan
mereka untuk pekerjaan. Setelah Perang Dunia II, sebagian besar tentara Ambon
tetap setia kepada Belanda dan bertempur dengan mereka melawan kaum nasionalis
Indonesia. Transfer Belanda kedaulatan kepada Indonesia pada tahun 1950 untuk
memimpin deklarasi kemerdekaan Republik Maluku Selatan (RMS), tapi ini gagal.
Khawatir pembalasan dari nasionalis, sekitar 4.000 tentara Ambon dan keluarga
mereka "sementara" ditransfer ke Belanda pada tahun 1951. Karena
keterikatan teguh kepada cita-cita RMS, mereka kembali menjadi mustahil.
Frustrasi yang dihasilkan menyebabkan serangkaian tindakan teroris, termasuk
pembajakan kereta yang spektakuler, pada 1970-an. Selama seluruh periode
pengasingan, kelompok ini telah ditampilkan kecenderungan separatis yang kuat,
menggagalkan segala usaha Belanda untuk mengasimilasi mereka. Hanya baru-baru
ini telah ada beberapa keinginan menuju integrasi fungsional.
TOKOH AMBON
PATTIMURA
Pattimura(atau Thomas
Matulessy) (lahir di Hualoy, Seram Selatan, Maluku, 8 Juni
1783 – meninggal
di Ambon,
Maluku,
16 Desember
1817 pada umur 34 tahun),
juga dikenal dengan nama Kapitan Pattimura adalah pahlawan Ambon
dan merupakan Pahlawan nasional Indonesia.Menurut buku
biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama kali terbit, M Sapija menulis,
"Bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari
Nusa Ina (Seram). Ayah beliau yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari
Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau.
Sahulau merupakan nama orang di negeri yang terletak dalam sebuah teluk di
Seram Selatan".Namun berbeda dengan sejarawan Mansyur Suryanegara. Dia
mengatakan dalam bukunya Api Sejarah bahwa Ahmad Lussy atau dalam bahasa Maluku
disebut Mat Lussy, lahir di Hualoy, Seram Selatan (bukan Saparua
seperti yang dikenal dalam sejarah versi pemerintah). Dia adalah bangsawan dari
kerajaan Islam Sahulau, yang saat itu diperintah Sultan Abdurrahman. Raja ini
dikenal pula dengan sebutan Sultan Kasimillah (Kazim Allah/Asisten Allah).
Dalam bahasa Maluku disebut Kasimiliali.
UTHA
LIKUMAHUWA
Doa Putra Ebal Johan
Likumahuwa
atau yang dikenal dengan nama Utha Likumahuwa (lahir di Ambon, Maluku, 1 Agustus
1955 – meninggal
di Jakarta,
13 September
2011 pada umur 56 tahun)
adalah seorang penyanyi Indonesia asal Ambon.Utha menikah dengan Debbi Farida
Likumahuwa dan dikaruniai dua anak, Inne Likumahuwa dan Abraham Likumahuwa.
Setelah lama malang melintang di dunia hiburan, Utha sekarang lebih banyak
aktif dalam dunia pelayanan rohani.Utha adalah paman dari Barry Likumahuwa dan adik
dari Benny Likumahuwa.
W.B.J.A.
Scheepens
Wilhelm
Bernhard Johann Antoon Scheepens (lahir di Amboina, 13 April 1868 – meninggal
di Sigli, 17 Oktober 1913
pada umur 45 tahun) adalah seorang kapiten infanteri, ksatria, dan perwira Militaire
Willems-Orde serta pemilik Eresabel.
Masyarakat
Ambon, adalah salah satu masyarakat Indonesia yang berada di kawasan maluku.
Setiap masyarakat pastilah memiliki kebudayaan yang berbeda dengan masyarakat
lainnya yang menjadi penanda keberadaan suatu masyarakat / suku. Begitu juga
dengan masyarakat Ambon yang memiliki karekteristik kebudayaan yang berbeda.
Keunikan kharakteristik suku Ambon ini tercermin dari kebudayaan yang mereka
miliki baik dari segi agama, mata pencaharian, kesenian dan lain sebagainya. Suku
Ambon dengan sekelumit kebudayaannya merupakan salah satu hal yang menarik
untuk dipelajari dalam bidang kajian mata kuliah Pluralitas dan Integritas
Nasional yang pada akhirnya akan menjadi bekal ilmu pengetahuan bagi kita dalam
hal kebudayaan.
sepertinya anda sedikit keliru,, soal adat-adat perkawinan di budaya maluku itu tidak seperti itu. saya tidak tahu dari mana anda dapat referensi seperti itu tapi untuk adat kawin lari / lari bini itu tidak lazim di kota ambon seperti halnya yang anda paparkan. karena perkawinan seperti mungkin sama saja dengan pulau jawa dan yang lainya yang mereka sebut nikah siri. pada intinya pernikahan adat daerah ambon memang harus ada wali dari pihak perempuan entah itu ayah, saudara laki-laki atau keluarga sedarah.
BalasHapus