PENGANTAR
KOMPUTASI MODERN
NILA KATRIN ANANTA TOMY
55412324
4IA09
السَّلاَمُ
عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
Tulisan ini sengaja dibuat bukan untuk
menyombongkan diri melainkan untuk mendeskripsikan diri sendiri, karena
kesombongan dapat menolak kebenaran dan merendahkan manusia.
[H.R. Muslim, no. 2749, dari ‘Abdullah bin
Mas’ûd]
Nama saya Nila Katrin Ananta
Tomy, saya lahir pada tanggal 11 Januari 1994 pukul 16.00 WIB. Data di KTP saya
lahir pada tanggal 12 Januari 1994 di kota Malang. Orang tua saya dari Jawa
Timur, Papa bernama Bastomy lahir di Tulung Agung, sedangkan Mama bernama Tri
Lestiarini lahir di Malang. Saya memiliki satu adik laki-laki bernama Bisma
Dwiki Ananda Tomy, adik saya lahir di Ujungpandang pada tahun 1996. Cerita
kehidupan saya dari lahir hingga sekarang menetap di Depok cukup panjang,
karena kami sekeluarga sering berpindah-pindah dalam kurun waktu yang tidak
lama. Semua bermula saya kecil di Bali namun lahir di Malang. Umur 2 tahun kami
pindah ke Ujung pandang, dan di kota ini lah adik saya lahir. Dikota ini pula
saya dioperasi amandel. Tapi ingatan saya tidak terlalu melekat. Setelah menetap
selama 2,5 tahun, tepat di umur saya menginjak 5 tahun, kami pindah ke
Samarinda. Di kota inilah saya mulai memasuki TK, baru beberapa bulan kurang
lebih 8 bulan, kami sekeluarga pindah lagi ke Surabaya, namun saya,Mama dan
adik tinggal di malang. Di Malang kami tinggal dirumah nenek, dan untuk mengisi
kegiatan saya, Mama memasukkan saya ke SD padahal belum genap 7 tahun. Saya
memiliki kenangan yang tidak begitu bagus ketika bersekolah di Malang. Lalu ketika
usia saya genap berusia 7 tahun, kami sekeluarga pindah ke Surabaya, dan secara
resmi saya masuk Sekolah Dasar. Lingkungan rumah di Surabaya sungguh membuat
saya rindu, mayoritas orang china yang tinggal di komplek perumahan saya, namun
tidak pandang bulu. Dari sinilah saya belajar bahwa manusia tidak ada bedanya,
selama kita saling menghormati dan menghargai.
Kami sudah mendiami beberapa
kota seperti Bali, Ujungpandang, Samarinda, Malang, Surabaya lalu sekarang di
Depok untuk yang terakhir kalinya kami tidak mau pindah-pindah lagi hahaha.
Tapi sekarang sudah 2 Tahun tinggal di bandung, karena papa pindah tugas.
Karena saya dan adik saya udah kuliah jadi kita berdua memilih untuk tetap di
Depok.
Masa kecil saya dan adik saya
hampir serupa, kami dulu dibentuk menjadi pribadi yang mandiri dan bisa dalam
segala hal. Saat saya berusia 6 tahun, Papa memasukkan saya ke dalam
suatu tempat les renang di Surabaya, Lalu pada saat kelas 4 SD, kami terpaksa
pindah ke Jakarta. Saat itu tahun 2003, Papa kembali mengkursuskan saya les
Renang lebih khusus, saya dan adik saya pun bergabung dalam suatu klub Renang
bernama TODAK. Rutinitas saya sehari-hari saat itu hanya sekolah, ke club
renang, ngaji, les Bahasa inggris, begitu terus hingga SMP. Menginjak SMP ada
Olimpiade Olahraga Siswa Nasional, saya pun mengikuti ajang lomba tersebut
membawa nama SMPN 102 sebagai atlit Renang, namun saya gagal melanjutkan hingga
babak Se-DKI Jakarta. Namun saya tidak kecewa karena saya sadar kemampuan saya
masih jauh dari atlit atlit renang yang sudah mencapai Gubernur-Cup dan lawan
saya saat itu adalah lawan saya juga dalam lomba-lomba OPEN-club lainnya. Jadi
saya mengetahui kekuatan lawan saya saat itu dibandingkan dengan kekuatan saya,
sungguh jauh berbeda. Saya rasa hidup mereka gak lebih dari renang,renang dan
renang hahahahaha. Saya masih terus menjadi atlit renang hingga SMP kelas 3
awal, begitu mendapati tambahan les pelajaran saya sudah tidak bisa lagi
mengikuti rutinitas saya yg sebelumnya jadi saya merelakan latihan renang saya.
Saya pun resmi berhenti menjadi atlit renang saat kelas 3 SMP dengan tidak
mengikuti kejuaraan manapun.
Tidak begitu banyak
penyesalan yang saya rasakan saat itu, saya lebih merasa senang karena sudah
mendapat banyak pengalaman. Saat SMA saya tidak memiliki prestasi apa-apa,
akademik saya pun biasa-biasa saja, saya cenderung menikmati masa SMA saya
dengan teman-teman saya. Saking menikmatinya saat SMA kelas 3, saya tidak tau
ingin menjadi apa, saya tidak mahir dalam berhitung, maupun menghafal. Namun
sejak kecil cita-cita saya ingin kerja di Kedutaan Besar Jepang. Hingga saat
ini pun mimpi itu masih terus melekat dalam benak saya, namun keinginan saya
masuk ke jurusan Hubungan Internasional sirna karena tidak diperbolehkan kuliah
di universitas yang jauh dan mengharuskan nge-kost, jadi saya mengikuti
keinginan orangtua saya masuk ke jurusan Teknik Informatika di Universitas
Gunadarma.
Pada awalnya saya tidak terlalu menyukai kuliah di jurusan ini namun seiring
berjalannya waktu saya menemukan celah-celah yang membuat saya suka di bidang
ini. Lalu saya berfikir untuk menambah pengalaman karena pengetahuan saja tidak
cukup untuk terjun di dunia kerja, saya pun melamar menjadi petugas
perpustakaan di kampus D Universitas Gunadarma pada semester 5. Lalu saya
resign karena mendapat tawaran pekerjaan dari teman saya sebagai Part-Timer di
kursus Bahasa inggris EF (English First), saat itu saya meginjak semester
6 dan dihadapkan dengan Penulisan Ilmiah, saat itu kondisi saya tidak
memungkinan untuk meneruskan kerja part-time saya. Lalu Papa saya meyuruh saya
untuk mencoba berjualan sendiri, dengan menjual produk dari kerjasama Papa dan
temannya, akhirnya saya pun mencoba memasarkan produk tersebut melalui online. Tidak
banyak orang yang mengetahui produk saya dan tergolong susah memasarkan produk
yang masih sangat -sangat baru, ini merupakan tantangan saya untuk mencapai
kesuksesan. Karena menurut saya sukses tidak harus kerja dengan orang di
perusahaan besar. Dengan kita memiliki lapangan usaha sendiri saya kira itu
lebih baik, walaupun saya tetap menyimpan cita-cita bekerja di Kedutaan Besar
Jepang. Dengan berbagai pengalaman yang telah saya lalui sejauh ini saya belum
menemukan jati diri saya sepenuhnya, saat ini saya masih mencari jati diri yang
sesungguhnya dan menyadari banyak kekurangan dalam diri saya, seperti susah
mengikhlaskan sesuatu yang sudah lepas dari hidup saya, masih lebih memikirkan
diri sendiri, malas dalam mempelajari hal yang saya rasa masih kurang saya
pahami, canggung jika bersama orang yang baru dikenal sehingga susah untuk
berkomunikasi pada awal pertemuan. Kekurangan saya yang paling merugikan saya
sih malas, malas dalam belajar dan saya sudah merasakan dampak dari rasa malas
tersebut. Maka dari itu mulai sekarang saya mulai menumbuhkan motivasi belajar
dalam hal apapun agar penyesalan tidak datang untuk yang kedua kalinya.
Untuk
menyadari kelebihan yang saya miliki, saya kira saya lebih mudah belajar jika
langsung dipraktekkan, dan mungkin kecintaan saya terhadap makluk hidup seperti
hewan dan tanaman juga termasuk dalam kelebihan saya. Saya mengikuti organisasi
PETA(People for the Ethical Treatment of Animals).Saya sangat sangat mencintai
hewan dan tumbuhan, karena mereka juga layak mendapatkan cinta. Hewan juga
memiliki rasa cinta yang bisa mereka sampaikan tapi banyak manusia yang buta
akan hal ini, mereka lebih melihat bahwa hewan adalah makhluk yang tidak
sempurna yang tidak punya akal.
Saya rasa sekian cerita dari
kehidupan saya, mohon maaf jika terasa menyombongkan diri namun ini hanyalah
tugas semata, saya harap dapat menjadi inspirasi bagi pembaca. Terimakasih.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar