Sabtu, 26 Maret 2016

Tugas 2: Pengantar Komputasi Modern

PENGANTAR KOMPUTASI MODERN


https://blogger.googleusercontent.com/img/proxy/AVvXsEiqsyZSFIhwbdtex_nL6yfrI9xaSZHbnSonwdlJylljmz7lVMa48jcOi78p1KzLIF_rSWmm6woRRZyFkNRnUoC22SXPMyynOxk3NWakNjJZUicF5PYZpQ4ERHGfHAsgZ1zciC0Jr_Zu2NuOZMpksQ9SFd9_SahWxXH3yDFH-QnwhwDg=

NILA KATRIN ANANTA TOMY
55412324
4IA09

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ 

Tulisan ini sengaja dibuat bukan untuk menyombongkan diri melainkan untuk mendeskripsikan diri sendiri, karena kesombongan dapat menolak kebenaran dan merendahkan manusia.  
[H.R. Muslim, no. 2749, dari ‘Abdullah bin Mas’ûd]

Nama saya Nila Katrin Ananta Tomy, saya lahir pada tanggal 11 Januari 1994 pukul 16.00 WIB. Data di KTP saya lahir pada tanggal 12 Januari 1994 di kota Malang. Orang tua saya dari Jawa Timur, Papa bernama Bastomy lahir di Tulung Agung, sedangkan Mama bernama Tri Lestiarini lahir di Malang. Saya memiliki satu adik laki-laki bernama Bisma Dwiki Ananda Tomy, adik saya lahir di Ujungpandang pada tahun 1996. Cerita kehidupan saya dari lahir hingga sekarang menetap di Depok cukup panjang, karena kami sekeluarga sering berpindah-pindah dalam kurun waktu yang tidak lama. Semua bermula saya kecil di Bali namun lahir di Malang. Umur 2 tahun kami pindah ke Ujung pandang, dan di kota ini lah adik saya lahir. Dikota ini pula saya dioperasi amandel. Tapi ingatan saya tidak terlalu melekat. Setelah menetap selama 2,5 tahun, tepat di umur saya menginjak 5 tahun, kami pindah ke Samarinda. Di kota inilah saya mulai memasuki TK, baru beberapa bulan kurang lebih 8 bulan, kami sekeluarga pindah lagi ke Surabaya, namun saya,Mama dan adik tinggal di malang. Di Malang kami tinggal dirumah nenek, dan untuk mengisi kegiatan saya, Mama memasukkan saya ke SD padahal belum genap 7 tahun. Saya memiliki kenangan yang tidak begitu bagus ketika bersekolah di Malang. Lalu ketika usia saya genap berusia 7 tahun, kami sekeluarga pindah ke Surabaya, dan secara resmi saya masuk Sekolah Dasar. Lingkungan rumah di Surabaya sungguh membuat saya rindu, mayoritas orang china yang tinggal di komplek perumahan saya, namun tidak pandang bulu. Dari sinilah saya belajar bahwa manusia tidak ada bedanya, selama kita saling menghormati dan menghargai.
Kami sudah mendiami beberapa kota seperti Bali, Ujungpandang, Samarinda, Malang, Surabaya lalu sekarang di Depok untuk yang terakhir kalinya kami tidak mau pindah-pindah lagi hahaha. Tapi sekarang sudah 2 Tahun tinggal di bandung, karena papa pindah tugas. Karena saya dan adik saya udah kuliah jadi kita berdua memilih untuk tetap di Depok.

Masa kecil saya dan adik saya hampir serupa, kami dulu dibentuk menjadi pribadi yang mandiri dan bisa dalam segala hal. Saat saya berusia  6 tahun, Papa memasukkan saya ke dalam suatu tempat les renang di Surabaya, Lalu pada saat kelas 4 SD, kami terpaksa pindah ke Jakarta. Saat itu tahun 2003, Papa kembali mengkursuskan saya les Renang lebih khusus, saya dan adik saya pun bergabung dalam suatu klub Renang bernama TODAK. Rutinitas saya sehari-hari saat itu hanya sekolah, ke club renang, ngaji, les Bahasa inggris, begitu terus hingga SMP. Menginjak SMP ada Olimpiade Olahraga Siswa Nasional, saya pun mengikuti ajang lomba tersebut membawa nama SMPN 102 sebagai atlit Renang, namun saya gagal melanjutkan hingga babak Se-DKI Jakarta. Namun saya tidak kecewa karena saya sadar kemampuan saya masih jauh dari atlit atlit renang yang sudah mencapai Gubernur-Cup dan lawan saya saat itu adalah lawan saya juga dalam lomba-lomba OPEN-club lainnya. Jadi saya mengetahui kekuatan lawan saya saat itu dibandingkan dengan kekuatan saya, sungguh jauh berbeda. Saya rasa hidup mereka gak lebih dari renang,renang dan renang hahahahaha. Saya masih terus menjadi atlit renang hingga SMP kelas 3 awal, begitu mendapati tambahan les pelajaran saya sudah tidak bisa lagi mengikuti rutinitas saya yg sebelumnya jadi saya merelakan latihan renang saya. Saya pun resmi berhenti menjadi atlit renang saat kelas 3 SMP dengan tidak mengikuti kejuaraan manapun.
Tidak begitu banyak penyesalan yang saya rasakan saat itu, saya lebih merasa senang karena sudah mendapat banyak pengalaman. Saat SMA saya tidak memiliki prestasi apa-apa, akademik saya pun biasa-biasa saja, saya cenderung menikmati masa SMA saya dengan teman-teman saya. Saking menikmatinya saat SMA kelas 3, saya tidak tau ingin menjadi apa, saya tidak mahir dalam berhitung, maupun menghafal. Namun sejak kecil cita-cita saya ingin kerja di Kedutaan Besar Jepang. Hingga saat ini pun mimpi itu masih terus melekat dalam benak saya, namun keinginan saya masuk ke jurusan Hubungan Internasional sirna karena tidak diperbolehkan kuliah di universitas yang jauh dan mengharuskan nge-kost, jadi saya mengikuti keinginan orangtua saya masuk ke jurusan Teknik Informatika di Universitas Gunadarma.
          Pada awalnya saya tidak terlalu menyukai kuliah di jurusan ini namun seiring berjalannya waktu saya menemukan celah-celah yang membuat saya suka di bidang ini. Lalu saya berfikir untuk menambah pengalaman karena pengetahuan saja tidak cukup untuk terjun di dunia kerja, saya pun melamar menjadi petugas perpustakaan di kampus D Universitas Gunadarma pada semester 5. Lalu saya resign karena mendapat tawaran pekerjaan dari teman saya sebagai Part-Timer di kursus Bahasa inggris EF (English First),  saat itu saya meginjak semester 6 dan dihadapkan dengan Penulisan Ilmiah, saat itu kondisi saya tidak memungkinan untuk meneruskan kerja part-time saya. Lalu Papa saya meyuruh saya untuk mencoba berjualan sendiri, dengan menjual produk dari kerjasama Papa dan temannya, akhirnya saya pun mencoba memasarkan produk tersebut melalui online. Tidak banyak orang yang mengetahui produk saya dan tergolong susah memasarkan produk yang masih sangat -sangat baru, ini merupakan tantangan saya untuk mencapai kesuksesan. Karena menurut saya sukses tidak harus kerja dengan orang di perusahaan besar. Dengan kita memiliki lapangan usaha sendiri saya kira itu lebih baik, walaupun saya tetap menyimpan cita-cita bekerja di Kedutaan Besar Jepang. Dengan berbagai pengalaman yang telah saya lalui sejauh ini saya belum menemukan jati diri saya sepenuhnya, saat ini saya masih mencari jati diri yang sesungguhnya dan menyadari banyak kekurangan dalam diri saya, seperti susah mengikhlaskan sesuatu yang sudah lepas dari hidup saya, masih lebih memikirkan diri sendiri, malas dalam mempelajari hal yang saya rasa masih kurang saya pahami, canggung jika bersama orang yang baru dikenal sehingga susah untuk berkomunikasi pada awal pertemuan. Kekurangan saya yang paling merugikan saya sih malas, malas dalam belajar dan saya sudah merasakan dampak dari rasa malas tersebut. Maka dari itu mulai sekarang saya mulai menumbuhkan motivasi belajar dalam hal apapun agar penyesalan tidak datang untuk yang kedua kalinya.
          Untuk menyadari kelebihan yang saya miliki, saya kira saya lebih mudah belajar jika langsung dipraktekkan, dan mungkin kecintaan saya terhadap makluk hidup seperti hewan dan tanaman juga termasuk dalam kelebihan saya. Saya mengikuti organisasi PETA(People for the Ethical Treatment of Animals).Saya sangat sangat mencintai hewan dan tumbuhan, karena mereka juga layak mendapatkan cinta. Hewan juga memiliki rasa cinta yang bisa mereka sampaikan tapi banyak manusia yang buta akan hal ini, mereka lebih melihat bahwa hewan adalah makhluk yang tidak sempurna yang tidak punya akal.
Saya rasa sekian cerita dari kehidupan saya, mohon maaf jika terasa menyombongkan diri namun ini hanyalah tugas semata, saya harap dapat menjadi inspirasi bagi pembaca. Terimakasih.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar