Minggu, 07 April 2013

kebudayaan Maluku


MALUKU
Kepulauan Maluku merupakan kepulauan di Indonesia, dan bagian dari wilayah yang lebih besar Maritim Asia Tenggara. Tektonik mereka berada di Lempeng Halmahera dalam Zona Collision Laut Maluku. Secara geografis mereka berada timur dari Sulawesi, sebelah barat New Guinea, dan utara Timor. Pulau-pulau juga historis dikenal sebagai Kepulauan Rempah oleh Cina dan Eropa, tetapi istilah ini juga telah diterapkan ke pulau-pulau lainnya. Di Ambon desa dinamakan dengan negeri yang dikepalai oleh seorang Raja. Di dalam sebuah desa atau negeri terdapat beberapa perkampungan yang di pimpin oleh Aman. Di dalam sebuah perkampungan terdiri dari bagian kampung yang dipimpin oleh seorang Soa. Di dalam Soa terdapat beberapa rumah yang dipimpin oleh mata rumah. Pada zaman modern ini bentuk desa demikian telah mulai hilang. Karena sewaktu mereka pindah dari perdalaman ke dareah pesisir pantai kesatuan-kesatuan yang mereka adakan telah berpencar dan tidak menemukan satu sama lain.Rumah-rumah yang biasa mereka tempati ialah rumah pangung. Rumah-rumah penduduk asli sangat berbeda dengan penduduk yang datang, masyarakat islam dan masyarakat nasrani yang tidak bertiang sejajar dengan tanah. Rumah kepala Soa biasanya selalu dibangun dengan megah dan indah ala perumahan Eropa.


BUDAYA DAN TRADISI
Itu sejak tahun lalu Maluku akrab dengan seni ukir. Hal ini dapat dibuktikan dengan jumlah kayu yang diukir atau batu berukir untuk menyembah leluhur. Umumnya, pola ukiran dalam bentuk manusia dan penempatan dapat perbedaan sesuai dengan tujuan. Ukiran dapat ditempatkan di haluan kapal, di tangga depan rumah di gerbang desa atau di tempat khusus lainnya.



Gerabah Kapal Art

Karya seni ini biasanya dilakukan secara tradisional di tenggara Maluku, tempat di mana dapat menemukan banyak tanah liat, bahan utama untuk seni ini. Musim terbaik untuk membakar kapal gerabah adalah selama musim panas, yang biasanya pada bulan Agustus sampai Oktober. Membentuk gerabah yang menggunakan lengan atau peralatan lainnya seperti kayu misalnya. Jika perlu dapat diwarnai atau diukir di permukaan, dan yang juga dilakukan dalam metode yang sangat sederhana, yaitu selama tanah liat masih mulus, sebelum dibakar. Pola dekorasi yang bervariasi. The gerabah dari arah tenggara Maluku untuk instan, ia cenderung untuk menggunakan garis lurus / garis-garis. Sementara dari Aru itu diwarnai dengan bentuk geometri dan dibentuk oleh garis lurus setelah luka bakar.


Plait Art

Beberapa tipe rumah tangga di tenggara Maluku dilakukan melalui anyaman. Keranjang, kotak dan tas adalah barang yang biasa dibuat. Mereka digunakan untuk menyimpan dan membawa barang-barang. Penangkap ikan juga anyaman. Bahan anyaman tidak selalu berkaitan dengan rumah tangga, namun juga dapat digunakan untuk upacara agama. Bahan dasar untuk anyaman biasanya bambu, rotan atau berangkat dari pohon palem. Karya seni anyaman terdiri dari berbagai teknik, dari yang sangat sederhana sampai yang kompleks. Perempuan umumnya menggunakan pohon palem, sementara laki-laki yang menggunakan bambu atau rotan. Pola, yang biasanya diterapkan, adalah orang menari, bintang, spiral / spring, ikan, bulan, dan lencana bahkan keluarga.

Keluarga rambut tenun

Keindahan Maluku juga bersinar dari kilauan perhiasan emas. Tanimbar, Babar dan Kisar sekitarnya memiliki tradisi dalam kerajinan emas. Emas itu sendiri tidak ada ditambang. Para perajin emas mendapatkan itu dari pedagang yang berasal dari Madagaskar, Bugis, dan dariBelanda dan Inggris         pada    waktu  itu. Perhiasan emas biasanya dibuat dalam bentuk gelang, anting-anting, mahkota, kepala aksesoris, kalung, aksesoris pakaian serta piring. Perajin roughs mereka dengan berbagai pola. Pola bisa dalam bentuk bintang, hewan, manusia, atau seni. Memang merupakan tujuan simbolis.Pola  ini juga dapat dirancang  makhluk mati. Perhiasan emas merupakan status yang khas dalam masyarakat seperti apa yang mereka dimaksudkan untuk menjadi. Saat ini, bahwa perhiasan emas tetap disimpan oleh warisan. Mereka disimpan dan dibahas dalam keranjang tertentu. Pada saat upacara agama tertentu seperti acara. Mereka diungkapkan pada upacara ritual. Selain itu, mereka dapat dilakukan untuk pihak yang berkepentingan dengan jumlah tertentu kompensasi uang. Mereka diperbolehkan untuk mengambil gambar. Namun, orang yang diizinkan untuk memakainya,hanya mereka yang mewarisi perhiasan tersebut.



Tradisi

Maluku kaya dengan tradisi budaya. Untungnya, tradisi yang tetap dipertahankan hingga saat ini dan masih bisa dinikmati. Gila bambu misalnya, beberapa orang memegang bambu diiringi dengan musik lokal, berayun, yang tampaknya untuk hidup dan bergerak sendiri. Instrumen musik juga khas dari Maluku, seperti meniup shell, tifa dan totobuang.
Ada juga tradisi yang terjadi setelah 7 hari Iedul Fitri di Mamala dan Morela. Anak muda dari desa, memegang daun palem rusuk, memukul satu sama lain. Sementara bekas luka yang disebabkan untuk itu, disembuhkan dengan menggosokkan minyak tertentu yang disiapkan. Kora-kora ras hingga saat ini tetap menjadi tradisi yang tidak pernah ditinggalkan. Hal ini dimulai pada bulan April di beberapa desa, dibutuhkan kurang lebih 8 km. Perlombaan kora-kora juga dimaksudkan untuk memperingati ulang tahun Ambon. Ada banyak lagi tradisi, sampai kebiasaan di bulan September di Haruku pulau. Dimana orang mencari dan mengumpulkan telur Maleo burung yang dimaksudkan untuk melestarikan spesies-spesies. Dalam tarian tradisional, tarian tradisional Maluku memiliki beberapa, salah satunya dikenal sebagai tari Sawat. Dan tarian yang populer dan dikenal di seluruh bangsa dan bahkan presiden pertama Indonesia, Bung Karno, menyukainya banyak. Itu disebut tari Lenso.

KEBUDAYAAN KOTA AMBON
Kota Ambon adalah kota yang memiliki kebudayaaan yang sangat unik dan eksotis . Meskipun pada tahun 1999 terjadi Kerusuhan besar - besaran menyangkut permasalahan SARA , tapi banyak hal yang dapat kita pelajari kebudayaannya serta sejarahnya . Bahasa orang Ambon sangat mirip dengan bahasa Jerman , Belanda dan Inggris . Kata yang sering saya ucapkan setelah menerima sebuah hadiah atau oleh - oleh adalah " Danke", kata ini mirip sekali dengan bahasa Jerman . Kata - kata bahasa Maluku sangat Mudah diingat asal kita ingat suku katanya saja ,“Kita” di ambon menjadi “katong” asal kata dari “kita orang”, “mereka” menjadi “dong” asal kata dari “dia orang”. Untuk kata kepemilikan menggunakan kata “punya” yang disingkat menjadi “pung”, contohnya apabila kita ingin menyebutkan “rumah saya” maka menjadi “beta pung rumah”. Ada beberapa hal yang perlu diingat antara lain, mereka cenderung menyingkat kata, bunyi vokal “e” akan selalu dibaca “e’ “, dan untuk kata yang berakhiran dengan “n” selalu menjadi “ng”. Dengan demikian dapat dipahami kenapa kata “punya” menjadi “pung” dan “pergi” menjadi “pi”, “jangan” menjadi “jang”, “dengan” menjadi “deng”, “teman” menjadi “tamang”, dan “makan” menjadi “makang”. Ahaa… kami pun mulai asik bercakap-cakap dalam bahasa Maluku “katong pi jua?” atau “ayo katong pi makang, beta su lapar” “epenka” “jang mara”. 

MUSIK AMBON 

Masyarakat Kota Ambon setiap hari suka memutar musik dengan keras - keras . Jangan mengharapkan di sana ada lagu - Lagu barat seperti : Justin Bieber , Lady gaga , Ketty Perry dll , yang ada di sana hanya ada Lagu - lagu Ambon yang diciptakan Orang - orang Ambon itu sendiri . Saya saja sampai hafal lagu - lagu Ambon seperti : 
1. Hura - Hura Cincin 
2. Enggo Lari 
3. Hitam - Hitam kuli Kanari 
Selain di rumah penduduk , lagu - lagu AMbon juga dapat di dengar di rumah - rumah makan , angkutan umum , Kapal penyebrangan umum dan juga di tempat - tempat lainnya . 

BUDAYA DAN SAGU

Keseluruhan budaya Maluku terangkum di Museum Siwalima sangat cocok untuk dapat memahami kilas kebudayaan di sana. Hal yang menarik dari kehidupan masyarakat Maluku adalah tingginya tingkat ketergantungan terhadap pohon sagu, perannya sama seperti Kelapa di Pulau Jawa di mana dari ujung akar sampai ujung daun dapat dimanfaatkan. Namun kontribusi pohon sagu lebih merasuki kebutuhan primer masyarakat Maluku yaitu kebutuhan pangan dan papan. Buah sagu diolah menjadi papeda, makanan pokok masyarakat Maluku, dan bisa diolah menjadi beraneka ragam penganan lain berupa camilan yang enak dan khas. Batang pohonnya akan diolah menjadi furnitur dan kayu untuk rumah, dan daun-daun yang menyerupai sirip daun kelapa akan dianyam rapat lalu dijemur untuk kemudian menjadi atap rumah. Atap yang terbuat dari daun sagu ini sangat nyaman, karena secara alami akan mengatur suhu udara di bawahnya untuk tetap nyaman bagi manusia.
Apabila pohon sagu telah mati, sesuai dengan musimnya ulat-ulat sagu akan bermunculan, dan ulat-ulat ini pun ikut disantap menjadi makanan berprotein tinggi. Untung sekali saat kami ke sana tidak sedang musim ulat sagu sehingga tidak ada kesempatan untuk dipaksa memakannya.
Itulah kilas budaya Ambon yang sempat tertangkap oleh panca indra saya selama tujuh hari di kota tersebut. Dan tentu saja kisah Ambon tidak terhenti di sini, simaklah dinamika sejarah dan pesona alamnya pada cerita selanjutnya.


A. PERALATAN DAN PERLENGKAPAN HIDUP

            Peralatan dan perlengkapan orang orang Ambon dibagi menjadi 2 bagian, yaitu
Peralatan pada zaman dulu dan peralatan zaman sekarang


B. SISTEM MATA PENCAHARIAN

            Orang-orang Ambon pada umumnya mayoritas mereka bertani di lading. Dalam hal ini, sekelompok orang membuka sebidang tanah di hutan, dengan cara menebang pohon – pohon di hutan dan dengan membakar batang – batangnya serta dahan yang telah kering. Ladang yang dibuka dengan cara ini hanya diolah dengan tongkat, kemudian ditanami tanpa irigasi kemudian ditanami kacang-kacangan dan ubi ubian.

            Makanan mayoritas orang Ambon adalah sagu, tapi zaman sekarang beras sudah biasa mereka makan, tetapi belum menggantikan sagu seluruhnya. Pohon sagu tidak perlu ditanam dan dipelihara karena pohon sagu telah berkembang dan hidup di pulau pulau Maluku serta di rawa rawa juga sangat banyak.

            Di daerah lereng lereng gunung orang juga menanam kentang walaupun hasilnya tidak banyak, kebiasaan menanam kentang itu berasal dari orang orang Belanda, tanaman pengaruh orang Belanda adalah kopi yang banyak tumbuh di Lisaba, Amahai, dan Manipa.

            Banyak penduduk menanam tembakau untuk dipakai sendiri, mereka menanam di pekarangan rumah, dibawah cucuran atap sehingga kalau turun hujan, air hujan tersebut langsung menyiram tanaman tembakau tersebut, daun tembakau lebat dan kuat. Orang membuat tembakau dengan memotong motong halus daun tembakau tersebut kemudian dijemur di terik mentari supaya kering.

            Orang Ambon juga menanam tebu, singkong, jagung, dan kacang kacangan. Sedangkan buah buahan yang ditanam antara lain pisang, mangga, manggis, gandaria, durian, cengkih juga ditanam oleh orang Ambon. Cengkih sangat mudah perawatannya tetapi harganya cukup tinggi.

            Hasil bumi tersebut bila berlebih akan dijual kepada orang lain, dengan demikian orang tersebut mendapat upah dari hasil penjualan, serta memperoleh uang untuk membeli kebutuhan sehari hari, bayar pajak, membiayai sekolah anak anak mereka serta membeli alat alat pertukangan.

            Di samping pertanian, orang Ambon juga memburu rusa, babi hutan, dan burung kasuari. Mereka menggunakan lembing yang dilontarkan dengan jebakan dan dengan cara memburu secara langsung menguunakan panah atau senjata api.

            Penduduk di daerah pantai mayoritas mereka adalah nelayan dan menangkap ikan. Perahu mereka dibuat dengan satu batang kayu dan dilengkapi dengan cadik, perahu ini dinamakan dengan perahu semah. Perahu yang baik adalah perahu yang terbuat dari papan dan dibuat oleh orang Ternate, dinamakan pakatora. Perahu perahu besar untuk berdagang dinamakan jungku atau orambi.

C. SISTEM KEPERCAYAAN ATAU RELIGI

            Pada umumnya penduduk Maluku Tengah beragama Nasrani dan minoritas beragama Islam, walaupun mereka telah memeluk agama Islam dan Nasrani tapi mereka masih nampak sisa sisa religi sebelum agama Islam dan Nasrani muncul. Mereka masih percaya akan adanya roh roh yang harus dihormati dan diberi makan, minum dan tempat tinggal agar mereka tidak mengganggu bagi orang yang masih hidup di dunia ini. Untuk masuk baileu misalnya mereka harus melakukan upacara lebih dahulu untuk meminta izin kepada roh nenek moyang yang ada di Baileu. Adapun orang yang ikut dalam upacara tersebut adalah tuan negeri atau sesepuh. Orang yang masuk baileu harus memakai pakaian hitam serta kalung warna merah yang dikalungkan ke bahu. Zaman sekarang orang Ambon telah meninggalkan upacara memanggil roh nenek moyang, kurban kurban yang dipersembahkan kepada roh nenek moyang serta pemujaan roh nenek moyang.

            Orang Ambon mengenal upacara cuci negeri yang pada umumnya sama dengan upacara bersih desa yang dilakukan orang di pulau Jawa. Semua penduduk desa harus membersihkan sesuatu dengan cara yang baik dan benar. Bangunan bangunan yang harus dibersihkan adalah Baileu, rumah rumah warga dan pekarangan, bila tidak dilakukan dengan benar maka akan ada sangsinya yaitu mereka akan jatuh sakit. Seluruh warga desa akan terkena wabah penyakit atau panennya gagal. Orang Maluku Tengah pada umumnya mengenal upacara pembayaran kain berkat, yang dilakukan oleh klen penganten laki laki, kepada kepala adat dari desa penganten perempuan, pembayaran itu berupa kain putih serta minuman keras atau tuak, kalau hal ini dilupakan keluarga muda ini akan menjadi sakit dan mati. Di desa desa Ambon yang beragama Islam kita melihat adanya dua golongan penganut yang disamakan dengan  Islam di Jawa yaitu misalnya abangan atau santri. Di negeri Kailolo mayoritas penduduknya adalah santri, bulan puasa di beritahukan oleh imam atau disebut saniri negeri. Demikian pula dengan lebaran haji setelah kepala negeri atau saniri negeri mengetahuinya, maka imam imam negeri tersebut harus menyampaikan kepada umat Islam di sana



D. SISTEM KEMASYARAKATAN
Dalam system kemasyarakatan masyarakat Ambon mengambil system kekerabatan yang bersifat ke-Ayahan “Patrilineal”. Di dalam kekerabatan yang memegang peranan penting ada dua yaitu
· “Mata rantai”, mata rumah ini biasanya bertugas mengatur perkawinan warganya secara “Exogami” dan dalam hal mengatur penggunaan tanah-tanah “dati” tanah milik kerabat patrilineal.
· “Family”, family merupakan kesatuan terkecil dalam mata rumah. Family ini berfungsi sebagai pengatur pernikahan klenya.
Perkawinan dalam masyarakat Ambon merupakan urusan mata rumah dan family. Di dalam masyarakat Ambon perkawinan di kenal dengan beberapa macam, diantaranya :
a. Kawin minta ialah perkawinan yang terjadi apabila seorang pemuda telah menemukan seorang gadis yang akan dijadikan istri, maka pemuda in meminta pada mata rumah dan family untuk melamarnya. Sebelum acara pelamaran para mata rumah dan family mengadakan rapat adat satu klen dalam persiapan acara pelamaran.
b. Kawin lari atau lari bini adalah system perkawinan yang paling lazim di lakukan oleh masyarakat Ambon. Hal ini di karenakan oleh masyarakat Ambon lebih suka jalan pendek, untuk menghindari prosedur perundingan dan upacara adat.
c. Kawin masuk atau kawin menua yaitu perkawinan yang pengantin laki-lakinya tinggal di rumah pengantin perempuannya. Perkawinan ini terjadi apabila :
· Kaum kerabat si pengantin tidak dapat membayar maskawin secara adat.
· Penganten perempuan merupakan anak tunggal dalam keluarganya.
· Karena ayah dari pengaten laki-laki tidak setuju dengan perkawinan tersebut

SEJARAH DAN BUDAYA HUBUNGAN AMBON

Wilayah ini baik secara kultural dan ras terletak "di persimpangan jalan" antara Indonesia dan Melanesia. Sifat budaya paling menonjol yang diadopsi dari Melanesia adalah kakehan, masyarakat rahasia pria di Seram, masyarakat hanya seperti di kepulauan Indonesia keseluruhan. Maluku atau "Spice Islands" awalnya satu-satunya tempat di mana pala dan cengkeh ditemukan. Sudah dikenal di Roma kuno dan mungkin lebih awal di Cina, rempah-rempah didambakan menarik pedagang dan imigran dari Jawa dan pulau-pulau Indonesia lainnya, serta India, Arab, dan Eropa. Melalui perkawinan, spektrum yang luas dari jenis fisik muncul, sering bervariasi secara luas dari desa ke desa, dan budaya Ambon menjadi amalgam pikiran-menyilaukan sebelumnya, ciri-ciri budaya pribumi dengan konsep dan kepercayaan Hindu-Jawa, Arab, Portugis, dan asal Belanda . Daerah Budaya Ambon dapat dibagi menjadi dua subkultur, yaitu budaya ALIFURU dari suku pedalaman Seram, dan budaya Pasisir dari Ambon-Lease dan membentang pesisir Seram Barat. ALIFURU adalah bercocok tanam yang berlatih pengayauan sampai pengamanan oleh Belanda tak lama sebelum Perang Dunia I. klan Kebanyakan Ambon di wilayah Pasisir melacak nenek moyang mereka ke daerah pegunungan Seram, dan budaya ALIFURU membentuk dasar budaya Ambon. Banyak budaya ALIFURU telah dihancurkan oleh misionaris Kristen bersemangat dari daerah Pasisir yang tidak bisa merasakan bahwa banyak dari apa yang mereka diserang sebagai "kafir" di Seram yang sakral untuk diri mereka sendiri di Ambon-Lease. Hal ini mengakibatkan paradoks bahwa desa-desa Kristen di Ambon-Lease, dikonversi sekitar 400 tahun sebelumnya, telah dilestarikan warisan budaya mereka lebih baik daripada desa-desa pegunungan baru saja dikonversi di Seram, yang kini menemukan dirinya dalam limbo budaya dan dalam keadaan depresi ekonomi . Sementara di wilayah Pasisir Kristen Protestan dan Islam mendominasi pandangan dunia dari pengikut masing-masing, kepercayaan tradisional dan praktek (adat) terus mengatur hubungan sosial di kedua komunitas agama. Ekspansi yang cepat dari Islam di wilayah ini pada abad kelima belas terkandung dengan kedatangan Portugis (tahun 1511), yang dikonversi sebagian penduduk "kafir" ke Katolik Roma selama abad mereka kekuasaan kolonial. Tahun 1605 Belanda menggantikan mereka, dan tetap di sana sampai 1950. Mereka berpaling penduduk Kristen Protestan Calvinis dan menjadi melembagakan monopoli rempah-rempah meskipun perlawanan sengit dari kedua Muslim dan Kristen. Pada abad kesembilan belas, setelah penurunan perdagangan rempah-rempah, Ambon Muslim memudar ke latar belakang sementara nasib orang-orang Kristen menjadi semakin erat dengan Belanda. Seperti terpercaya dan tentara yang setia, mereka menjadi andalan tentara kolonial Belanda (KNIL). Milik yang terbaik-kelompok berpendidikan di Hindia Belanda, banyak yang bekerja di pemerintahan kolonial dan perusahaan swasta di luar tanah air mereka. Pola emigrasi terus dalam periode pascakemerdekaan. Muslim, sebelumnya dikeluarkan untuk sebagian besar dari pendidikan, sekarang cepat menyusul dengan Kristen dan bersaing dengan mereka untuk pekerjaan. Setelah Perang Dunia II, sebagian besar tentara Ambon tetap setia kepada Belanda dan bertempur dengan mereka melawan kaum nasionalis Indonesia. Transfer Belanda kedaulatan kepada Indonesia pada tahun 1950 untuk memimpin deklarasi kemerdekaan Republik Maluku Selatan (RMS), tapi ini gagal. Khawatir pembalasan dari nasionalis, sekitar 4.000 tentara Ambon dan keluarga mereka "sementara" ditransfer ke Belanda pada tahun 1951. Karena keterikatan teguh kepada cita-cita RMS, mereka kembali menjadi mustahil. Frustrasi yang dihasilkan menyebabkan serangkaian tindakan teroris, termasuk pembajakan kereta yang spektakuler, pada 1970-an. Selama seluruh periode pengasingan, kelompok ini telah ditampilkan kecenderungan separatis yang kuat, menggagalkan segala usaha Belanda untuk mengasimilasi mereka. Hanya baru-baru ini telah ada beberapa keinginan menuju integrasi fungsional.
TOKOH AMBON

PATTIMURA
Pattimura(atau Thomas Matulessy) (lahir di Hualoy, Seram Selatan, Maluku, 8 Juni 1783 – meninggal di Ambon, Maluku, 16 Desember 1817 pada umur 34 tahun), juga dikenal dengan nama Kapitan Pattimura adalah pahlawan Ambon dan merupakan Pahlawan nasional Indonesia.Menurut buku biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama kali terbit, M Sapija menulis, "Bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayah beliau yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau merupakan nama orang di negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan".Namun berbeda dengan sejarawan Mansyur Suryanegara. Dia mengatakan dalam bukunya Api Sejarah bahwa Ahmad Lussy atau dalam bahasa Maluku disebut Mat Lussy, lahir di Hualoy, Seram Selatan (bukan Saparua seperti yang dikenal dalam sejarah versi pemerintah). Dia adalah bangsawan dari kerajaan Islam Sahulau, yang saat itu diperintah Sultan Abdurrahman. Raja ini dikenal pula dengan sebutan Sultan Kasimillah (Kazim Allah/Asisten Allah). Dalam bahasa Maluku disebut Kasimiliali.

UTHA LIKUMAHUWA
Doa Putra Ebal Johan Likumahuwa atau yang dikenal dengan nama Utha Likumahuwa (lahir di Ambon, Maluku, 1 Agustus 1955 – meninggal di Jakarta, 13 September 2011 pada umur 56 tahun) adalah seorang penyanyi Indonesia asal Ambon.Utha menikah dengan Debbi Farida Likumahuwa dan dikaruniai dua anak, Inne Likumahuwa dan Abraham Likumahuwa. Setelah lama malang melintang di dunia hiburan, Utha sekarang lebih banyak aktif dalam dunia pelayanan rohani.Utha adalah paman dari Barry Likumahuwa dan adik dari Benny Likumahuwa.

W.B.J.A. Scheepens
Wilhelm Bernhard Johann Antoon Scheepens (lahir di Amboina, 13 April 1868 – meninggal di Sigli, 17 Oktober 1913 pada umur 45 tahun) adalah seorang kapiten infanteri, ksatria, dan perwira Militaire Willems-Orde serta pemilik Eresabel.

Masyarakat Ambon, adalah salah satu masyarakat Indonesia yang berada di kawasan maluku. Setiap masyarakat pastilah memiliki kebudayaan yang berbeda dengan masyarakat lainnya yang menjadi penanda keberadaan suatu masyarakat / suku. Begitu juga dengan masyarakat Ambon yang memiliki karekteristik kebudayaan yang berbeda. Keunikan kharakteristik suku Ambon ini tercermin dari kebudayaan yang mereka miliki baik dari segi agama, mata pencaharian, kesenian dan lain sebagainya. Suku Ambon dengan sekelumit kebudayaannya merupakan salah satu hal yang menarik untuk dipelajari dalam bidang kajian mata kuliah Pluralitas dan Integritas Nasional yang pada akhirnya akan menjadi bekal ilmu pengetahuan bagi kita dalam hal kebudayaan.


1 komentar:

  1. sepertinya anda sedikit keliru,, soal adat-adat perkawinan di budaya maluku itu tidak seperti itu. saya tidak tahu dari mana anda dapat referensi seperti itu tapi untuk adat kawin lari / lari bini itu tidak lazim di kota ambon seperti halnya yang anda paparkan. karena perkawinan seperti mungkin sama saja dengan pulau jawa dan yang lainya yang mereka sebut nikah siri. pada intinya pernikahan adat daerah ambon memang harus ada wali dari pihak perempuan entah itu ayah, saudara laki-laki atau keluarga sedarah.

    BalasHapus